Showing posts with label Opini dan Jurnal. Show all posts
Showing posts with label Opini dan Jurnal. Show all posts
Saturday, 7 March 2015
Monday, 2 March 2015
Batu Tampaning Jadi Primadona Di Malaysia
Hobi batu akik sudah menjadi fenomena sosial di Indonesia. Tak terkecuali, di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan di mana para komunitas kota kalong tersebut mengadakan pameran batu permata.
Mulai dari batu yang masih berupa bongkahan setengah jadi dalam bentuk cincin, gelang hingga liontin. Baik batu lokal maupun dari luar negeri diminati para peserta pameran yang tidak hanya berasal dari kabupaten setempat, melainkan juga dari Kabupaten Bone, Wajo, Pinrang hingga Mamuju, Sulawesi Barat.
Di sini, yang menjadi primadona adalah batu tampaning. Sesuai dengan namanya, batu tersebut ditemukan di Desa Tampaning, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng.
Adapun ciri batu itu berwarna ungu dan putih berkabut. Bisa dikatakan bahwa batu tersebut cukup fenomenal karena sempat menjadi juara dua pada ajang batu permata di Malaysia.
Wahyudin, salah satu panitia pameran, mengatakan bahwa dalam pameran, para pengunjung juga dimanjakan dengan kehadiran pengrajin yang langsung mengolah batu menjadi permata. Dengan demikian, katanya, warga yang ingin membeli batu akik dapat langsung dibuatkan di lokasi sesuai dengan selera baik model maupun ukurannya.
"Harga batu tampaning sudah mencapai jutaan rupiah. Harga disesuaikan dengan ciri dan karakteristik yang dimiliki batu tersebut," tuturnya, Senin 2 Maret 2015.
Puang Hendra Soetomo/Sulawesi Selatan
Thursday, 5 February 2015
Maulid Nabi Muhammad SAW di Walemping
Hari ini masyarakat Walemping desa Pesse Kecamatan Donri-Donri
mengadakan peringatan kelahiran Rasulullah Muhammad SAW 1435H. Acara
tersebut diselenggarakan di Mesjid masyarakat setempat ,dengan
menghadirkan Bapak Bupati Soppeng Drs.H.Soetomo,MSi dan Istrinya selaku
ketua DPRD Soppeng,Kadis Kehutanan,Kadis Pariwisata,Pengawas Dikmudora
Kec.Donri-Donri,Kapolres Donri-Donri,dan Pembawa khutbah Maulid Imam
Mesjid Raya Soppeng,Kepala Desa Pesse,Guru-guru SDN 248
Walemping,beserta tokoh masyarakat lainnya yang berdomisili di desa
Pesse dan khususnya kampung Walemping.
Tuesday, 27 January 2015
Calabai (Waria) dalam konteks masyarakat Bugis
“Calabai” Bukan “Bissu”
Engkana sewwa wettu ulawo jokka-jokka
Riwiringna tasi’e losari’o asengna
Engka anadara tudang ale-ale
Cawa-cawa caberu mangolo riaaleku
Ula’o madeperi masirimma nataro
Calabairo pale wasenggi anadara
(Pada suatu waktu, aku pergi berjalan-jalan
Dipinggir pantai yang namanya Losari
Ada seorang gadis duduk seorang diri
Tertawa tersipu-sipu kepadaku
Akupun segera pergi mendekatinya
yang membuatku sangat malu
Ternyata “Calabai”, kusangka gadis)
Engkana sewwa wettu ulawo jokka-jokka
Riwiringna tasi’e losari’o asengna
Engka anadara tudang ale-ale
Cawa-cawa caberu mangolo riaaleku
Ula’o madeperi masirimma nataro
Calabairo pale wasenggi anadara
(Pada suatu waktu, aku pergi berjalan-jalan
Dipinggir pantai yang namanya Losari
Ada seorang gadis duduk seorang diri
Tertawa tersipu-sipu kepadaku
Akupun segera pergi mendekatinya
yang membuatku sangat malu
Ternyata “Calabai”, kusangka gadis)
Ketika itu di awal tahun 90-an, alunan lagu diatas sangat populer, disenangi oleh setiap lapisan masyarakat, orang tua, anak-anak, laki-laki dan perempuan untuk kalangan orang Bugis di Soppeng. Bagi kalangan terbatas,terutama anak-anak sebayaku
Jurnal Penelitian : Pangan, Makkuleleng, dan Komoditas
Bagaimana pasang-surut komoditas di sebuah desa di Sulawesi Selatan sampai mempengaruhi kerja-kerja kolektif warga?
JAGUNG dalam bahasa Bugis barelle. Warga Soga lebih sering meringkasnya menjadi relle. Warga desa di Kabupaten Soppeng ini menyebut dua jenis jagung yang dulu mereka tanam menjadi relle pulu dan relle sio. Keduanya menjadi bagian penting kehidupan warga desa di Kabupaten Soppeng ini sebelum kemerdekaan sampai awal dasawarsa 90-an.
Jagung menjadi makanan pokok Soga selain beras. Beras hanya bisa didapat dengan menjadi buruh panen karena Soga tak berlahan persawahan. Lahan milik warga Soga adanya segelintir di luar desa. Dengan teknik sederhana, pendapatan beras warga tidak seberapa.
Sebuah Jurnal : Jejak Peninggalan Arung Palakka di Umpungeng
Sulawesi Selatan sama dengan tempat lain di Indonesia, penuh dengan ragam adat istiadat yang lahir dari kisah panjang berlatar sejarah Nusantara. Salah satunya adalah adat Maccera Tana dan Mallangi Arajang. Apakah gerakan adat itu? Berikut ini adalah catatan seorang warga yang kebetulan hadir mengikuti ritual adat tersebut.
Udara sejuk dan hijaunya pepohonan menyambut kami ketika memasuki desa Umpungeng, dari kejauhan sayup-sayup terdengar tabuhan bunyi gendang yang membawa ingatan ke dimensi lain. Bulu kuduk serasa menari mengikuti alunan bunyi pukulan gendang berirama sanjungan pada sang Patotoe (dewa tertinggi dalam kebudayaan Bugis kuno). Semakin dekat dengan suara megah tersebut terlihat pula kerumunan orang di depan rumah panggung tradisional suku Bugis yang sudah dilengkapi dengan hiasan Lawa Suji yang tidak lain merupakan kosmologi masyarakat Bugis.
Hari itu tanggal 14 Maret 2014 saya datang bersama
Hikayat dedaunan yang diangkut ke tenggara episode II
Bagian terakhir dari cerita tentang kejayaan ico (tembakau) Soppeng, berikut dengan jejak-jejak kejayaan usaha ini, termasuk di Makassar.
H. Saide bisa disebut seorang legenda. Ia mendirikan Perusahaan Rokok Adidie tahun 1962 di Makassar. Hingga di usianya yang kesembilan puluh, perusahaan ini terus berproduksi. Bahan baku Adidie ia dapatkan dari Cabbenge, desa kelahirannya. Masa jaya usahanya pada 1970 sampai awal 1990 menjadikan H. Saide salah seorang dari sedikit orang terkaya di Sulawesi Selatan. Tembakau buatannya dikenal rokok beraroma keras (sarru’, dalam bahasa Makassar) yang paling diminati oleh para perokok Sulawesi hingga Papua pada dua sampai tiga dekade lalu.
Saide muda memilih meninggalkan Cabbenge,
H. Saide bisa disebut seorang legenda. Ia mendirikan Perusahaan Rokok Adidie tahun 1962 di Makassar. Hingga di usianya yang kesembilan puluh, perusahaan ini terus berproduksi. Bahan baku Adidie ia dapatkan dari Cabbenge, desa kelahirannya. Masa jaya usahanya pada 1970 sampai awal 1990 menjadikan H. Saide salah seorang dari sedikit orang terkaya di Sulawesi Selatan. Tembakau buatannya dikenal rokok beraroma keras (sarru’, dalam bahasa Makassar) yang paling diminati oleh para perokok Sulawesi hingga Papua pada dua sampai tiga dekade lalu.
Saide muda memilih meninggalkan Cabbenge,
Hikayat dedaunan yang diangkut ke Tenggara episode I
Sebuah karya penelitian : Ini satu dari dua bagian cerita tentang ico, istilah Bugis untuk tembakau. Komoditas ini pernah menjadi primadona dan memunculkan banyak orang kaya terutama di daerah Soppeng dan sekitarnya.
La Heddang (60) memandangi rumah panggungnya di Desa Soga, Soppeng. Ia tampak diliputi kekhawatiran. Beberapa hari terakhir ia tak memproduksi ico, tembakau Bugis. Biasanya, di kolong rumah panggungnya, La Heddang mengolah tembakau kering, meracik ‘saus gula merah’, mencampur saus ke hasil rajangan tembakau, memasukkannya ke dalam timpo (wadah dari batang bambu) dan memanaskan campuran tersebut dalam oven khusus. Kali ini, ia tak punya cukup uang membiayai ongkos produksi. Khawatir pelanggan-pelanggan setianya tak memeroleh pasokan tembakau, ia memilih keluar desa.
Sudah bulat niatnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)

